Archive for the ‘Aqidah’ Category

Perayaan Maulid Rasulullah dalam Sorotan Islam

Friday, February 26th, 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam

 

 

Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.

Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa mengada adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama ) kami yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.

Dalam hadits lain beliau bersabda :

“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya.

Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :

“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” ( QS. Al Hasyr 7 ).

“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” ( QS. An Nur, 63 ).

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” ( QS. Al Ahzab,21 ).

“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).

Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran ) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.

Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” ( HR. Muslim ).

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :

“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” ( HR. Muslim ).

Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.

Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada -Nya- lah aku kembali” ( QS. Asy syuro, 10 ).

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.

Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.

Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani. Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas ; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya) , tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’.
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani :

“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka” ( QS. Al An’am, 116 ).

Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini - selain bid’ah -tidak lepas dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan ( yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi bunyian, minum minuman yang memabukkan, dan kejahatan kejahatan lainya yang serupa.

Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah secara berlebih lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang ghoib, dan macam macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”.

“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” ( HR. Bukhori dalam kitab shohihnya, dari hadits Umar, Radliyallahu ‘anhu ).

Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karuniaNya kepada kita dan kaum muslimin.

Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin ) di sisi TuhanNya, itulah tempat kemuliaan.

Firman Allah dalam Al Qur’an :

“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat” ( QS. Al Mu’minun, 15-16 ).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara ahli kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”.

Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada pertentangan diantara mereka.

Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik pelindung kita, kepada-Nyalah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.

Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi, hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” ( QS. Al Ahzab, 56 ).

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat.”

Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits hadits yang cukup banyak jumlahnya.

Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian dan kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dialah MahaPemurah dan MahaMulia, semoga pula sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Sumber: Darussalaf

 

 

Tambahan:

Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara tersebut merupakan ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi kita sendiri?! Dengannya kita bisa melakukan napak tilas sejarah kehidupan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?! Mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?! Semua ini adalah niatan baik yang melatar belakangi perayaan tersebut, tapi seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang yang didapatinya di masjid Kufah, ketika itu mereka terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok majlis dzikir, majlis memuji dan mengingat Allah Ta’ala, kata Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu , “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya” . Hal ini karena mereka melakukan suatu yang tidak pernah dikerjakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semasa hidupnya.

Ungkapan kegembiraan yang tepat, yakni napak tilas kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mempelajari sunnah-sunnah beliau caranya dengan menerapkan ajarannya dalam kehidupan kita, dengan belajar ilmu agama diantaranya sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan dengan cara-cara yang baru yang hanya dikenal setelah berlalunya tiga generasi yang mulia, shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.

Adapun perayaan Maulid ini tidak dikenal di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, generasi pertama ummat ini dan tidak dikenal dalam mazhab yang empat, Hanafiah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Lantas siapa orang yang menanggung dosa pertama dari bid’ah maulid ini? Orang yang pertama kali mengadakan perayaan ini adalah kelompok Fatimiyyun disebut juga Ubaidiyyun ajaran mereka adalah kebatinan. Adapun perkataan bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan tersebut adalah seorang raja yang adil yang alim yaitu Raja Mudhofir, penguasa Ibril adalah pernyataan yang salah. Abu Syamah menjelaskan bahwa Raja Al Mudhofir (hanya) mengikuti jejak Asy-Syaikh Umar bin Muhammad Al Mulaa tokoh kebatinan dan dialah orang yang pertama kali mengadakan perayaan tersebut.

Kelompok yang membolehkan Maulid Nabi beralasan;
1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan dengan diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan hal ini termasuk perkara yang diharuskan karena Al-Qur’an memerintahkannya sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah Ta’ala :
“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira” (Qs. Yunus; 58).
Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan rahmat-Nya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah rahmat Allah yang paling agung, Allah Ta’ala berfirman :
“Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Qs. Al Anbiya’; 107)

Sanggahannya :
Bergembira dengan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kelahirannya, syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya di setiap situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu.
Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan acara Maulid nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun yang dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat sebelumnya.
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. Yunus; 57).

Ibnu Katsir menerangkan; “Firman Allah Ta’ala “rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman” maksudnya dengan Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa didapatkan dari Allah Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman dengan Al-Qur’an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala;
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al Israa’; 82).

2- Syubhat kedua, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri mengagungkan hari kelahirannya, beliau mengekspresikan hal itu dengan berpuasa, seperti diriwayatkan dari Abu Qatadahradiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab; “Pada hari itu aku dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan kepadaku”.

Sanggahannya :
Hadist Abu Qatadah radiyallahu ‘anha di atas adalah hadits yang shahih, tapi menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merayakan sendiri kelahirannya, ini yang salah. Kesimpulannya dalilnya shahih, pendalilannya salah. Dikarenakan beberapa alasan;
1- Diriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa puasa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di hari Senin, karena amalan di hari itu diperlihatkan kepada Allah Ta’ala.
2- Kalau ucapan mereka benar, kenapa tidak ada seorang pun dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang memahami sabda diatas dengan pemahaman demikian. Kemudian datang orang-orang belakangan yang memahami puasa beliau di hari Senin sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari kelahirannya, lalu dari situ mereka mengadakan acara yang dinamakan Maulid!! Apakah mereka lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang mulia?! Dan kebenaran itu luput dari mereka dan hanya diketahui oleh orang yang datang belakangan?! Sungguh ajaib logika orang-orang pintar akhir zaman, hasbunallahu wani’mal wakiil.

3- Syubhat ketiga, perkataan mereka : Perayaan Maulid memang bid’ah, tapi bid’ah hasanah (baik).”

Sanggahannya :
Cukup dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Setiap bid’ah adalah sesat”. Dan seperti itu pulalah yang disampaikan Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma kepada orang-orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau; “Setiap bid’ah adalah sesat walaupun orang menganggapnya baik”.

Al Imam Malik rahimahullah berkata; “Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam Islam yang dianggapnya baik, ia telah menuduh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam khianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Ta’ala berfirman;
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Qs. Al Maidah; 3), maka segala sesuatu yang bukan agama dihari itu, bukan pula agama di hari ini.

Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa Rasululah SAW dan para shahabatnya, tidak pernah menganjurkannya? ! Apakah mereka tidak tahu?! Kemungkinan yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat kepada nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!

Pengertian Rukun Islam yang Pertama

Sunday, November 29th, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Pengertian Rukun Islam Yang Pertama :

 

شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

 

“Bersaksi bahawa tiada ‘Ilah’ yang berhak dilakukan ibadat melainkan Allah dan Muhammad merupakan rasul Allah”

 

 

            Kalimah syahadah merupakan asas terpenting di dalam agama. Ia merupakan syarat untuk seseorang masuk ke dalam agama Islam dan syarat untuk mencapai syurga Allah. Apabila seseorang menyempurnakan syarat dan tuntutan syahadah maka ia layak untuk mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah.

 

            Oleh itu menjadi kewajipan bagi setiap manusia yang beragama Islam mempelajari makna kalimah syahadah dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Rob mereka. Tidak boleh dia jahil tentangnya kerana kejahilan akan menyebabkan dirinya terjebak ke dalam kemungkaran dan maksiat kepada Allah Yang Maha Agong.

 

            Pada siri ini kita akan mempelajari pengertian syahadah (لا إله إلا الله  ) yang dipanggil kalimah tauhid. Sabda Rasulullah :

 

من مات وهو يعلم أن لا إله إلا الله دخل الجنة

Maksudnya : “siapa yang mati dalam keadaan dia mengetahui bahawa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah (لا إله إلا الله  ) maka dia akan masuk ke dalam syurga”- riwayat Muslim

 

            Alangkah besarnya nilai kalimah tauhid ini. Manakah keuntungan yang lebih besar daripada kejayaan mencapai syurga Allah dan selamat daripada neraka-Nya. Firman Allah :

 

فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز…

Maksudnya : “Sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga maka dia merupakan orang yang berjaya….”- surah Al-Imran 185

 

            Untuk memahami kalimah (لا إله إلا الله  ) ini kita perlu melihat daripada beberapa sudut :

1.   Pengertian ‘Ilah’

2.   Penafian adanya ‘Ilah’ pada kalimah (لا إله  )

3.   Menetapkan (Ithbat-إثبات  ) bahawa yang berhak terhadap uluhiyah (maksudnya yang berhak untuk dilakukan ibadat kepadanya ) hanyalah Allah. Makna ini terkandung di dalam kalimah (إلا الله  ).

 

Pengertian Ilah

 

            Kalimah ‘Ilah’ membawa makna ma’bud (معبود  ) ertinya yang dilakukan ibadat kepadanya. Apabila seseorang menyembah sesuatu, mengharap dan menghina diri kepadanya maka dia telah menjadikan perkara tersebut ‘ilah’ baginya. Ini kerana ibadat merupakan pengharapan dan penghinaan diri terhadap sesuatu yang agong yang berkuasa untuk memberi manfaat dan mendatangkan mudhorat.

 

Makna (لا إله  )

 

            Di dalam kalimah tauhid ini, kita bersaksi bahawa  tiada sesuatu pun berhak untuk disembah dan dilakukan ibadat kepadanya (لا إله  ) sama ada perkara tersebut adalah patung-patung, jin, manusia dan sebagainya kerana ia tidak berkuasa untuk mendatangkan manfaat atau memberi mudhorat. Kesemuanya adalah makhluk yang lemah, yang tunduk kepada kuasa yang lain iaitu Allah ‘azza wa jalla. Oleh itu Allah mengingkari perbuatan orang-orang musyrikin yang menyembah selain Allah di dalam firman-Nya :

 

ويعبدون من دون الله ما لاينفعهم ولا يضرهم وكان الكافرعلى ربه ظهيرا

Maksudnya : “dan mereka (orang musyrikin) melakukan ibadat kepada perkara selain Allah yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau mudhorat. Orang yang kafir merupakan penolong (kepada syaitan untuk melakukan maksiat) terhadap Allah”- surah Al-Furqan ayat 55

 

Makna (إلا الله  )

 

            Setelah kita menafikan wujudnya ‘ilah’ maka kita ‘mengithbatkannya’ kepada Allah. Ini kerana Dia merupakan Rob yang mencipta segala apa yang ada di alam ini, yang berkuasa, yang memberi rezeki serta menghidup dan mematikan. Sesuatu yang memiliki kesempurnaan dan kekuasaan seperti inilah merupakan satu-satunya yang layak disembah. Fitrah meanusia mengakui bahawa yang mencipta dan mentadbir segala urusan alam ini adalah Allah ‘azza wa jalla. Firman Allah :

 

ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولن الله

Maksudnya : “dan sekiranya kamu bertanya kepada mereka ( orang musyrikin) : siapakah yang mencipta langit dan bumi? Nescaya mereka akan menjawab : Allah”- surah Luqman ayat 25

 

            Manusia tidak akan mengatakan patung-patung yang mereka sembah atau nabi Isa atau jin merupakan pencipta langit dan bumi. Mereka mengetahui bahawa perkara-perkara tersebut merupakan makhluk yang tidak memiliki apa-apa kekuasaan. Yang berkuasa hanya Allah. Kalau begitu kenapakah kamu menyembah selain daripada Allah? Bukankah Allah telah memerintahkan supaya manusia melakukan ibadat kepadanya? Bukankah Allah memerintahkan supaya berdoa dan mengharap kepadanya? Firman Allah :

 

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه…..

Maksudnya : “dan Rob kamu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah melainkan kepada-Nya…”- surah Al-Isra’ 22

 

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم…..

Maksudnya : “dan Rob kamu berkata : Berdoalah kepadaku, maka Aku akan perkenankan buat kamu….” Surah Ghofir 60

 

            Dari sini kita mengetahui bahawa makna kalimah tauhid (لا إله إلا الله  ) adalah “Tiada Ilah yang berhak disembah dan dilakukan ibadat kepadanya melainkan Allah”. Oleh itu perlu pula kita mengetahui apakah makna ibadah yang diperintahkan supaya kita melakukannya hanya kepada Allah. Pengertian ibadat akan kita huraikan pada artikel yang akan datang insyaAllah.

 

Oleh Ustadz Abu Auzaie

Soal Jawab Aqidah-3

Saturday, March 14th, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Ustadz Abu Auzaie

 

Soal Jawab Akidah (3)

Soalan : Berapa martabat(tingkatan/tahap) agama Islam?

Jawapan : Martabat agama Islam ada 3 : Islam , Iman dan Ihsan. Setiap satu daripada 3 kalimah ini apabila diitlaqkan (disebutkan sendirian) maka ia merangkumi keseluruhan agama.

(Ertinya apabila disebutkan kalimah Islam sahaja maka ia merangkumi iman dan ihsan. Apabila disebut kalimah iman sahaja maka ia merangkumi Islam dan ihsan dan apabila disebut ihsan sahaja maka ia merangkumi Islam dan Iman)

Soalan : Apakah makna Islam?

Jawapan : Maknanya menyerah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melakukan ketaatan dan membebaskan diri daripada kesyirikkan. Firman Allah :

ومن أحسن دينا ممن أسلم وجهه

Maksudnya ; “siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan wajahnya (dirinya) kepada Allah..”

Firman-Nya lagi :

ومن يسلم وجهه الى الله وهو محسن فقد استمسك بالعروة الوثقى

Maksudnya : “dan sesiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat baik maka dia telah berpegang dengan ikatan yang teguh”.

Firman-Nya lagi :

فالهكم اله واحد فله أسلموا وبشر المخبتين

Maksudnya : “Ilah (Tuhan yang disembah) kamu merupakan Ilah yang satu maka hanya kepada-Nya hendaklah kamu menyerah diri. Berilah khabar gembira buat orang yang tunduk”.

Soalan : Apakah dalil penggunaan kalimah ini secara itlaq menunjukkan ia merangkumi keseluruhan agama?

Jawapan : Firman Allah :

ان الدين عند الله الاسلام

Maksudnya : “sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam”.

Sabda Rasulullah :

بدأ الاسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ

Maksudnya : “Islam itu datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali asing sebagaimana ia datang”-

Sabda Baginda :

أفضل الاسلام ايمان باالله

Maksudnya : “Islam yang paling utama adalah beriman dengan Allah”-

Dan banyak lagi nas-nas yang lain (yang menunjukkan bahawa Islam,Iman dan Ihsan membawa makna yang satu apabila diitlaqkan)

Soalan : Apakah dalil bahawa Islam itu diertikan dengan rukun yang 5.

Jawapan : Sabda Rasulullahصلى الله عليه وسلم ketika ditanya oleh Jibril tentang pengertian agama Islam :

الاسلام أن تشهد أن لا اله الا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان استطعت اليه سبيلا

Maksudnya : “Islam ertinya kamu bersaksi bahawa tiada Ilah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah, kamu mendirikan solat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan kamu menunaikan haji sekiranya kamu mampu mendapatkan ‘jalan’ untuk ke sana”.

Sabda Baginda :

بني الاسلام على خمس….

Maksudnya : “Islam itu dibina atas 5 perkara…”

Lalu Baginda menyebutkan 5 perkara di atas, cumanya didahulukan haji ke atas puasa di bulan Ramadhan. Kedua-dua hadis di dalam soheh Al-Bukhori dan soheh Muslim.

Soalan : Apakah kedudukan 2 kalimah syahadah di dalam agama?

Jawapan : Seseorang hamba tidak akan masuk ke dalam agama Islam melainkan dengan 2 kalimah ini. Firman Allah : 

انما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله..

Maksudnya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang yang beriman dengan Allah dan rasul-Nya..”

Sabda Rasulullah :

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا اله الا الله وأن محمدا عبده ورسوله

Maksudnya : “Aku diperintahkan supaya memerangi manusia sehinggalah mereka bersaksi bahawa tiada Ilah melainkan Allah dan Muhammad merupakan hamba-Nya dan rasul-Nya”-

Banyak lagi hadis-hadis yang lain

Soal Jawab Aqidah-2

Saturday, February 28th, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Soal Jawab Akidah (2)

Soalan : Bagaimana hamba-hamba mengetahui sesuatu perkara itu disukai oleh Allah dan Rasul-Nya?

Jawapan : Mereka mengetahui melalui pengutusan rasul dan penurunan kitab yang menyuruh kepada pekara yang disukai Allah dan diredhoi-Nya serta menegah perkara yang tidak disukai-Nya. Dengan kedatangan rasul dan penurunan kitab maka tertegaklah hujjah yang jelas dan zahirlah hikmah-Nya. Firman Allah :

رسلا مبشرين ومنذرين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل

Maksudnya : “rasul-rasul yang membawa khabar gembira dan memberi peringatan supaya tiada lagi bagi manusia hujjah(alasan) selepas perutusan rasul”.-An-Nisa’ 165

Firman-Nya lagi :

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Maksudnya : ” katakanlah : sekiranya kamu kasihkan kepada Allah maka ikutlah aku. Allah akan mengasihi kamu dan mengampunkan buat kamu dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani”.-Al-Imran 31

 

Soalan : Berapakah syarat ibadat?

Jawapan : Syarat ibadat ada 3. Pertama : Keazaman yang betul yang merupakan syarat wujudnya ibadat. Kedua : Mengikhlaskan niat. Ketiga : Ibadat tersebut bertepatan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah yang mana ia tidak diberikan pembalasan melainkan dengan syarat ini. Syarat kedua dan ketiga merupakan 2 syarat penerimaan amal ibadat.

 

Soalan : Apakah yang dimaksudkan dengan keazaman yang betul?

Jawapan : Maksudnya meninggalkan sikap malas dan bertangguh-tangguh. Berusaha bersungguh-sungguh agar perbuatannya bertepatan dengan percakapannya. Firman Allah :

يآيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون0 كبر مقتا عند الله أن تقولون ما لا تفعلون

Maksudnya : “wahai orang-orang yang beriman mengapakah kamu mengatakan perkara yang tidak kamu buat. Amat besar kebencian Allah apabila kamu mengatakan perkara yang tidak kamu buat” -As-Shof 2/3

 

Soalan : Apakah makna mengikhlaskan niat?

Jawapan : Mengikhlaskan niat ertinya menjadikan matlamat menuturkan perkataan dan melakukan amalan yang zahir dan batin ialah mengharapkan wajah Allah (mencapai keredhoan-Nya). Firman Allah :

وما أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء

Maksudnya : “dan mereka itu tidak diperintahkan melainkan untuk melakukan ibadat kepada Allah dengan mengikhlaskan amalan hanya kepada-Nya serta menjauhkan kesyirikkan”-Al-Bayyinah 5

Firman-Nya lagi :

وما لأحد عنده من نعمة تجزى الا ابتغاء وجه ربه الأعلى

Maksudnya: “dan tidak ada padanya nikmat yang perlu dibalas (melainkan dia telah membalasnya) melainkan untuk mendapatkan wajah Allah yang Maha Tinggi” - Surah Al-Lail 19/20.

Firman-Nya lagi :

انما نطعمكم لوجه الله لا نريد منكم جزاء ولا شكورا

Maksudnya: ” Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu hanyalah kerana wajah Allah. Kami tidak inginkan daripada kamu balasan atau pun ucapan terima kasih”- Al-Insan 9.

من كان يريد حرث الآخرة نزد له فى حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له فى الآخرة من نصيب

Maksudnya : “sesiapa yang inginkan ganjaran di akhirat maka Aku gandakan buatnya ganjarannya dan siapa yang inginkan balasan dunia maka Aku berikan kepadanya bahagiannya dan tidak ada baginya bahagian di hari akhirat” - As-Syura 20.

Juga ayat-ayat yang lain (yang menyatakan perkara yang sama)….

 

Soalan : Apakah syariat yang diperintahkan oleh Allah agar tidak dilakukan ibadat melainkan mengikut syariat tersebut?

Jawapan : Ia adalah agama Nabi Ibrahim yang hanif. Firman Allah :

ان الدين عند الله الاسلام

Maksudnya : “sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam”-Al-Imran 19

Firman-Nya lagi :

أفغير دين الله يبغون وله أسلم من فى السموات والأرض طوعا وكرها

Maksudnya : “adakah selain daripada agama Allah yang mereka cari sedangkan hanya kepada-Nya penghuni-penghuni di langit dan bumi menyerah diri dalam keadaan tunduk ataupun paksaan”-Al-Imran 83

ومن يرغب عن ملة ابرهيم الا من سفه نفسه

Maksudnya : “dan tidaklah orang yang bencikan kepada agama Ibrahim melainkan dia orang yang membodohkan dirinya sendiri”-Al-Baqarah 130

Firman-Nya lagi :

ومن يبتغ غير الاسلام دينا فلن يقبل منه وهو فى الآخرة من الخاسرين

Maksudnya : “sesiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima daripadanya dan dia di hari akhirat tergolong di dalam golongan yang rugi”-Al-Imran 85

Firman-Nya lagi :

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله

Maksudnya : “adakah bagi mereka sekutu-sekutu yang membuat syariat di dalam agama untuk mereka dalam perkara yang tidak diizinkan oleh Allah”-As-Syura 21

Silsilah Soal Jawab Aqidah_1

Monday, February 23rd, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

Silsilah Soal Jawab Aqidah

Oleh: Al Ustadz Abu Auzaie

Dipetik daripada kitab : 200 soal jawab tentang akidah Islam karangan Syaikh Hafiz ibnu Ahmad Hakami

Soalan : Apakah kewajipan yang pertama ke atas hamba-hamba?

Jawapan : Kewajipan yang pertama sekali ke atas hamba-hamba ialah mengetahui perkara yang menjadi sebab Allah mencipta mereka, mengambil perjanjian yang teguh daripada mereka dan sebab Allah mengutuskan para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka. Perkara yang yang menjadi sebab dicipta dunia dan akhirat, syurga dan neraka, berlakunya kiamat, diletakkan neraca timbangan amalan dan dibentangkan lembaran amalan. Ketentuan kesengsaraan dan kebahgiaan, dibahagikan cahaya (petunjuk-penterjemah) juga berdasarkan perkara tersebut. Barangsiapa yang tidak diberikan cahaya oleh Allah maka tiadalah cahaya buatnya.

 

Soalan : Apakah perkara yang menjadi sebab Allah mencipta makhluknya?

Jawapan : Firman Allah :

وما خلقنا السموات والأرض وما بينهما لاعبين 0 وماخلقنا هما الا بالحق ولكن أكثرهم لا يعلمون

Maksudnya : “dan Aku tidak jadikan langit dan bumi serta apa yang ada di antara kedua-duanya dengan bermain-main 0 Aku tidak mencipta kedua-duanya melainkan dengan kebenaran akan tetapi kebanyakkan mereka tidak mengetahui” - Ad-Dukhan ayat 38. Firman Allah:

وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلا ذلك ظن الذين كفروا

Maksudnya : “dan Aku tidak mencipta langit dan bumi serta apa yang ada di antara kedua-duanya secara batil(sia-sia). Yang demikian itu adalah sangkaan orang-orang yang kufur..” - Shod ayat 27. Firman Allah :

وخلق الله السموات والأرض بالحق ولتجزى كل نفس بما كسبت وهم لا يظلمون

Maksudnya : “Allah mencipta langit dan bumi dengan kebenaran dan untuk diberikan pembalasan kepada setiap jiwa dengan apa yang dia kerjakan dan mereka tidak akan dizalimi” - Al-Jathiyah ayat 22. Firman Allah :

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Maksudnya : “dan Aku tidak mencipta jin dan manusia melainkan untuk mereka melakukan ibadat kepadaku” - Az-Zariyat ayat 56

 

Soalan : Apakah makna hamba?

Jawapan : Perkataan ‘hamba’ sekiranya membawa maksud yang ditundukkan maka ia merangkumi kesemua makhluk yang ada di langit dan di bumi sama ada yang berakal atau tidak, yang basah(hidup) atau kering(mati), yang bergerak atau tidak bergerak, yang zahir dan yang tersembunyi, yang beriman atau kafir, yang baik atau jahat dan lain-lain lagi. Kesemuanya adalah makhluk (ciptaan) Allah ‘azza wa jalla yang tunduk di bawah kuasa dan pentadbirannya. Setiap dari perkara ini ada garisan dan batasan untuk ia berhenti di atasnya. Kesemuanya bergerak pada tempoh yang telah ditetapkan. Tidak sekali-kali mereka akan dapat melintasinya. “Itu merupakan ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” dan tadbiran Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Sekiranya perkataan hamba tadi membawa maksud hamba yang kasih dan tunduk maka ianya khusus kepada orang-orang mukmin yang merupakan hamba-hamba-Nya yang dimuliakan, wali-wali-Nya yang bertaqwa, yang tidak merasa takut (terhadap perkara yang akan terjadi dihadapan mereka-penterjemah) dan tidak merasakan kesedihan (terhadap apa yang mereka tinggalkan-penterjemah).

 

Soalan : Apakah ibadat?

Jawapan : Ibadat adalah nama yang meliputi setiap perkara yang dikasihi oleh Allah dan diredhio-Nya sama ada perkataan yang zahir dan batin (sama ada amalan hati, lidah dan perbuatan-penterjemah) dan membebaskan diri daripada perkara yang bertentangan dengannya.

 

Soalan : Bilakah amalan itu dikira sebagai ibadat?

Jawapan : Apabila cukup padanya dua perkara iaitu kesempurnaan rasa kasih dan kesempurnaan rasa tunduk (menghina diri dihadapan Allah-penterjemah). Firman Allah :

والذين آمنوا أشد حبا لله

Maksudnya : “dan orang-orang yang beriman amat kasih kepada Allah” - Al-Baqoroh ayat 165. Firman Allah :

والذين هم من خشية ربهم مشفقون

Maksudnya: “dan orang-orang yang gementar kerana takutkan kepada Rob mereka”- Al-Mukminun ayat 57. Allah telah menghimpunkan kedua-dua sifat ini dalam firman-Nya :

انهم كانوا يسارعون فى الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وكانوا لنا خاشعين

Maksudnya : “sesungguhnya mereka (para nabi tersebut) bersegera dalam melakukan kebaikan dan berdoa kepadaKu dalam keadaan mengharap dan takut dan mereka itu tunduk  dan khusyu’ kepada-Ku” - Surah Al-Anbiya ayat 90

Wasiat Rasulullah

Friday, February 13th, 2009

Wasiat Rasulullah

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Abu Auzaie

 

            Allah telah mengutuskan buat manusia akhir zaman rasulNya yang terakhir iaitu Muhammad صلى عليه وسلم. Baginda membawa petunjuk yang memandu manusia kepada kesejahteraan dan kebahagian untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Beruntunglah para sahabat yang sempat bersama baginda mengambil pedoman yang terkandung di dalam wahyu yang dibawa oleh baginda iaitu al-Quran dan Sunnah.

            Bagaimana dengan generasi terkemudian seperti kita? Masih adakah cahaya yang ditinggalkan selepas kewafatan baginda? Sudah tentu. Allah mengutuskan baginda sebagai rahmat buat sekalian alam. firmanNya :

وما أرسلناك الا رحمة للعالمين

Maksudnya : dan tidak Aku utuskan kamu (nabi Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk sekalian alam” - Al-Anbiya’ 107

 

            Sebagai seorang nabi yang sifatnya amat kasihkan kepada umatnya, inginkan kebaikan buat mereka dan tidak mahu kesusahan serta keburukan menimpa mereka sebagaimana firman Allah :

لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم

Maksudnya : “telah datang kepada kamu seorang rasul yang sejenis dengan kamu, amat berat baginya perkara yang menyusahkan kamu, amat inginkan (kebaikan) buat kamu dan bersifat lemah lembut dan belas kasihan kepada orang-orang beriman”- At-Taubah 128.

…dengan sifat sebegini baginda tidak membiarkan umat baginda yang terkemudian  terjerumus ke lembah kesesatan, teraba-raba mencari pedoman. Oleh itu baginda mewasiatkan kepada mereka supaya berpegang teguh dengan beberapa perkara :

  1. Al-Quran dan Hadis sebagaimana sabda baginda :

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله وسنتي

“aku tinggalkan pada kamu 2 perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selepas kedua-duanya iaitu kitab Allah dan sunnahku” - lihat Soheh Jamie’ As-Shogrir karangan Al-Albani.

  1. Apabila berlaku perselisihan dikalangan umat Islam maka hendaklah mereka kembali kepada sunnah baginda dan kefahaman para sahabat sebagaimana sabda baginda :

انه من يعش منكم بعدى فسيرى اختلافا كثيرا , فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ

            ”sesungguhnya sesiapa yang hidup dikalangan kamu selepas ketiadaanku akan

            melihat perselisihan yang amat banyak. Maka hendaklah kamu berpegang

            dengan sunnahku dan sunnah khalifah-khalfah  ar-rosyidin selepas aku.

            Berpegang teguhlah dengan sunnah tersebut dan gigitlah ia dengan gigi

            gerham”- lihat Silsilah Sohehah 938

  1. Umat baginda akan berpecah kepada 73 golongan. Kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan iaitu orang-orang yang berada di atas cara baginda dan para sahabat. Sabda baginda :

وان أمتي ستفترق على ثلاث وسبعين ملة كلها فى النار الا واحدة , قيل : من هي يا رسول الله؟ قال:  ما أنا عليه اليوم وأصحابي

“umat ini akan berpecah kepada 73 jalan (golongan). Kesemuanya akan memasuki neraka kecuali 1 golongan. Lalu dikatakan : siapakah mereka wahai rasulullah? Jawab baginda : orang yang berada di atas jalanku dan jalan sahabatku”- lihat Silsilah Sohehah 1/359

 

            Wasiat-wasiat ini mengingatkan kita supaya mempelajari al-Quran dan Sunnah, berpegang teguh dengan isi kandungan kedua-duanya dan mengikuti jalan para sahabat dalam memahami al-Quran dan Hadis.

 

Oleh itu…..

Pegangan kita :

  1. Kitab Allah
  2. Sunnah Rasulullah
  3. Memahami kedua-duanya berdasarkan kefahaman salafus soleh. Mereka ialah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

 

والله الموفق

Tauhid, Inti Dakwah Para Nabi

Sunday, February 8th, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

Tauhid, Inti Dakwah Para Nabi
Penulis: Al-Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Al-Anbiya: 25)

Penjelasan Mufradat Ayat
رَسُوْلٍ

“Seorang rasul.” Yang dimaksud rasul di dalam ayat ini bersifat umum, meliputi setiap yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dari kalangan para nabi maupun rasul. Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan antara makna nabi dan rasul. Sebab rasul memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari nabi, atau dengan ungkapan lain bahwa setiap rasul pasti seorang nabi namun tidak setiap nabi memiliki gelar sebagai rasul.
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan keduanya. Sebagian ada yang mengatakan perbedaan di antara keduanya adalah bahwa nabi adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya. Sedangkan rasul adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya. Pendapat ini dijadikan sandaran oleh Al-Baihaqi dan yang lainnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa nabi adalah seorang yang diutus dengan membawa syariat dan diperintahkan untuk disampaikan kepada kaum yang telah siap menerimanya, atau tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Sedangkan rasul adalah seseorang yang diutus dengan membawa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang menyelisihinya.
Pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh. Namun yang nampak bahwa kedua pendapat ini saling berkaitan. Ada lagi yang membedakan dengan cara yang lain, wallahu a’lam. (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi, 1/150, Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 1/124, Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah Shalih Alusy Syaikh dari kaset yang ditranskrip, Kitab At-Ta’rifat, Al-Jurjani, hal. 307)

نُوْحِي

“Kami wahyukan”, dengan huruf nun di depan. Ini berdasarkan qira`ah Hamzah, Hafsh, dan Al-Kasa`i. Adapun yang lainnya membaca dengan lafadz (يُوحَى) (diwahyukan kepadanya) dengan bentuk majhul yang didahului dengan huruf ya. (lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Al-Baghawi)
Wahyu yang dimaksud di dalam ayat ini adalah kabar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba yang memang dikehendaki-Nya berupa hidayah dengan cara cepat dan tersembunyi. Definisi ini dibawa kepada setiap wahyu yang ditujukan kepada para nabi dan rasul-Nya. Wahyu memiliki makna selain yang tersebut di atas, di antaranya:
- Wahyu yang bermakna ilham dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada fitrah manusia, seperti wahyu yang ditujukan kepada Ibu Nabi Musa ‘alaihissalam.

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوْسَى أَنْ أَرْضِعِيْهِ

“Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia’.” (Al-Qashash: 7)
- Wahyu yang bermakna ilham yang diperuntukkan bagi watak dan tabiat hewan tertentu, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah dalam firman-Nya:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ

“Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia’.” (An-Nahl: 68) [Lihat kitab Mabahits fi ‘Ulumil Qur`an karangan Manna' Al-Qaththan hal. 26-27, Maktabah Wahbah, cet. ke-12]

فَاعْبُدُوْنِ

“Sembahlah Aku.” Maknanya adalah “tauhidkanlah Aku.” Setiap lafadz di dalam Al-Qur`an yang menyebutkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka maknanya adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadahan kepada-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/58)
Adapun makna ibadah secara istilah adalah nama yang mencakup setiap apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhai-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir dan yang batin. (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 10/149)

Penjelasan Ayat
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini menjelaskan bahwa risalah yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul adalah satu, yang menjadi inti dakwah mereka. Yaitu menyeru umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan segala jenis peribadahan kepada selain-Nya. Di antara ayat yang semakna dengan ayat ini adalah firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.’ Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Al-Imam Ath-Thabari mengatakan ketika menjelaskan surat Al-Anbiya ayat 25: “Tidaklah Kami utus sebelum engkau seorang rasul kepada satu umat dari umat-umat yang ada, wahai Muhammad, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan di langit dan bumi, yang benar penyembahan kepadanya kecuali hanya Aku. Maka sembahlah Aku, ikhlaskan ibadah hanya untuk-Ku, sendirikan Aku dalam uluhiyyah (penyembahan).” (Tafsir At-Thabari)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu mengatakan dalam menjelaskan ayat ini: “Setiap rasul sebelum engkau bersama dengan kitab-kitab mereka, inti dan pokok risalah mereka adalah perintah beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan menjelaskan bahwa sesembahan yang haq itu hanyalah satu dan sesembahan yang selain Dia adalah batil.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Qatadah rahimahullahu mengatakan: “Para rasul diutus membawa ikhlas dan tauhid, tidak diterima amalan apapun dari mereka hingga mereka mengucapkan dan mengikrarkannya. Sedangkan syariat mereka berbeda-beda. Dalam Taurat terdapat syariat tersendiri, dalam Injil juga terdapat syariat tersendiri, dan dalam Al-Qur`an juga terdapat syariat tersendiri, ada halal dan haram. Dan yang dimaksud dari ini semua adalah memurnikannya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya.” (Tafsir At-Thabari)
Syaikhul Islam berkata: “Tauhid yang dibawa oleh para rasul mengandung penetapan bahwa uluhiyyah hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, agar seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia. Sehingga dia tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya, tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Nya, tidak ber-wala` (loyalitas) dan bersikap bara` (antipati) kecuali karena-Nya, tidak beramal kecuali hanya untuk-Nya. (Fathul Majid, hal. 38-39)

Seluruh Risalah para Nabi di atas Tauhid, walaupun Syariat Mereka Berbeda
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa inti risalah yang dibawa oleh setiap nabi adalah sama, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak terjadi perbedaan di antara mereka dalam hal ini. Sebagian ayat Al-Qur`an menyebutkan lebih rinci tentang dakwah mereka. Seperti ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam firman-Nya:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagi kalian selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)
Demikian pula dakwah Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, sebagaimana firman-Nya:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوْدًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُوْنَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Al-A’raf: 65)
Demikian pula dakwah Nabi Shalih ‘alaihissalam, sebagaimana firman-Nya:

وَإِلَى ثَمُوْدَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata. ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya’.” (Al-A’raf: 73)
Demikian pula dakwah Nabi Syu’aib ‘alaihissalam, sebagaimana firman-Nya:

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya’.” (Al-A’raf: 85)
Namun dalam hal hukum dan syariat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka, terjadi perbedaan antara syariat seorang rasul dengan rasul yang lainnya, sesuai dengan kemaslahatan dan hikmah yang Allah k kehendaki atas mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Ma`idah: 48)
Qatadah rahimahullahu berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Syir’atan wa minhajan adalah jalan dan metode (sunnah). Sunnah mereka berbeda-beda: Taurat memiliki sunnah sendiri, Injil memiliki sunnah sendiri, Al-Qur`an juga memiliki sunnah sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkan padanya apa yang Dia inginkan dan mengharamkan apa yang Dia inginkan sebagai cobaan, agar Dia mengetahui siapa yang taat dan siapa yang bermaksiat. Akan tetapi agama-Nya satu yang tidak diterima selainnya: tauhid dan ikhlas hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah yang dibawa oleh para rasul.” Dalam riwayat lain beliau mengatakan: “Agama satu dan syariat berbeda.” (Lihat Tafsir At-Thabari)
Ini dikuatkan dengan hadits yang shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاْلأَنْبِيَاءُ أَوْلاَدُ عَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi itu saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda dan agama mereka adalah satu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Al-Munawi berkata dalam Al-Faidhul Qadir (3/62): “Yaitu pokok agama mereka satu yakni tauhid, dan cabang syariat mereka berbeda-beda. Tujuan diutusnya para nabi yaitu membimbing seluruh makhluk diserupakan dengan ayah yang satu, sedangkan syariat mereka yang berbeda bentuk dan tingkatannya diserupakan dengan para ibu. Al-Qadhi berkata: ‘Kesimpulannya bahwa tujuan utama dari sebab diutusnya mereka semua adalah mengajak seluruh makhluk untuk mengenal kebenaran dan membimbing mereka menuju sesuatu yang mengatur kehidupan dunianya, serta memperbaiki hari di saat mereka kembali. Mereka sama dalam pokok ajaran ini, meskipun berbeda-beda dalam cabang-cabang syariat.
Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan pokok yang terjadi kesamaan di antara (dakwah) mereka dengan ungkapan ‘ayah’ dan menisbahkan mereka kepadanya. Dan beliau mengibaratkan perbedaan mereka dalam hal hukum dan syariat yang dari sisi bentuk dan tingkatannya dalam hal tujuannya dengan ungkapan ‘para ibu’. Walaupun berjauhan jaman dan kurun mereka, namun asal yang menjadi sebab mereka dikeluarkan dan diutus adalah satu, yaitu agama haq yang Allah telah menjadikannya sebagai fitrah bagi manusia yang siap menerimanya, tegak di atasnya, dan berpegang teguh dengannya. Berdasarkan hal ini, maka yang dimaksud dengan para ibu adalah zaman-zaman di mana mereka diutus.”
Namun setelah diutusnya Rasulullah Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka syariat telah sempurna. Tidak lagi ada hukum yang benar kecuali apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Allah kberfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba`: 28)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Dan adalah nabi terdahulu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Jabir z)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Telah diketahui secara pasti dari agama Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah disepakati umat ini bahwa pokok ajaran Islam, dan hal yang pertama kali diperintahkan kepada seseorang adalah: syahadat La Ilaha illallah dan Muhammadur Rasulullah. Dengan itu seorang yang kafir menjadi muslim, musuh menjadi kawan, yang halal darah dan hartanya menjadi terjaga darah dan hartanya. Kemudian jika syahadat tersebut berasal dari hatinya, maka dia telah memasuki tingkatan keimanan. Namun jika dia hanya mengucapkan dengan lisannya tanpa keyakinan hatinya, maka dia secara lahiriah menampakkan Islam tanpa keimanan dalam hati. Adapun orang yang tidak berucap dengan lisannya, padahal dia mampu melakukannya, maka dia kafir secara zhahir dan batin berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, menurut pendahulu umat ini dan para imamnya serta mayoritas para ulama.” (Fathul Majid, hal. 113)

Skala Prioritas dalam Berdakwah
Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran yang sangat penting, terkhusus bagi seorang dai yang mengajak manusia menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa dalam mengemban amanah dakwah, hendaklah kita selalu berusaha mengikuti tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dengan senantiasa mendahulukan skala prioritas dalam menyampaikan agama, dengan menerapkan al-bad`u bil aham fal aham (mendahulukan yang terpenting kemudian yang terpenting berikutnya).
Para nabi menjadikan inti dakwah mereka memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sebab walaupun mereka mengamalkan amalan yang lainnya, tapi bila tidak disertai memurnikan tauhid dalam beribadah kepada-Nya, maka hal tersebut akan menjadi sia-sia belaka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِيْنَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ وُجُوْهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِيْنَ

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (Az-Zumar: 60)
Dan juga firman-Nya:

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُوْنَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Inilah yang dajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Jika Rasulullah mengutus salah seorang mereka untuk berdakwah, beliau menasihatinya untuk memulai dakwahnya dengan yang terpenting. Di antara yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa tatkala Rasulullah mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau berpesan:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا عَرَفُوا اللهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ

“Sesungguhnya engkau mendatangi kaum dari ahli kitab, hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah (mentauhidkan) hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika mereka telah mengenal Allah, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu pada setiap hari dan malam. Jika mereka telah melakukan itu maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada orang-orang miskin mereka. Jika mereka telah menaatinya, maka ambillah dari mereka dan berhati-hatilah dari harta yang sangat berharga milik mereka.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu untuk memulai dalam berdakwah dengan hal yang terpenting untuk mereka.
Wallahu a’lam.

http://asysyariah.com/

BAGAIMANA AKU MENCAPAI JALAN TAUHID (Bagian 1)

Saturday, February 7th, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

 

BAGAIMANA AKU MENCAPAI JALAN TAUHID (Bagian Pertama)
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizahullah

 Pengantar:

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, keluarganya, serta para sahabatnya sampai hari akhir.

Amma Ba’du;

Insya Allah dalam beberapa kesempatan ini kami akan menurunkan secara berseri artikel Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizahullah Ta’ala yang menceritakan tentang sejarah hidupnya dalam MENGGAPAI JALAN TAUHID. Semoga artikel ini bermanfaat dan kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Jahra-Kuwait, 13 Syawal 1428 H - 23 Oktober 2007 M

Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan

= = = = = 000 = = = = =

Kelahiran dan Masa Pertumbuhan

<!–[endif]–>Saya dilahirkan di kota Hilb, Suria pada tahun 1925 M, berdasarkan apa yang tertulis dalam paspor, bertepatan dengan tahun 1344 H. Usia saya sekarang 73 tahun1). Ketika berusia kira-kira 10 tahun, saya masuk madrasa, khusus untuk belajar membaca dan menulis.

Saya menjadi murid di madrasah Daar Huffadz selama 5 tahun, dan selama itu pula saya menghafal Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan hukum-hukum tajwidnya.

Di Hilb, saya masuk madrasah yang bernama Kulliyah Asy-Syar’iyyah At-Tajhiziyyah yang sekarang telah berganti menjadi Tsanawiyah Syar’iyyah2) yang berada di bawah koordinasi Departemen Waqaf3). Madrasa ini mengajarkan ilmu-ilmu syari’ah seperti Tafsir, Fiqh dengan madzhab Imam Abu Hanifah, Nahwu, Shorof, Tarikh, Hadits dan ilmu-ilmu hadits dll. Selain itu, saya juga belajar ilmu-ilmu lain yang pernah dikuasai oleh orang-orang muslim dulu, seperti Ilmu Al-Jabar (Aritmatika).

Dan seingat saya, saya pernah belajar ilmu tauhid dari satu kitab yang berjudul Al-Hushun Al-Hamidiyyah. Suatu kitab yang terfokus hanya pada pembahasan tentang tauhid Rububiyyah dan penetapan bahwa alam ini memiliki pencipta dan Rabb. Dan ternyata kemudian, menjadi jelas bagi saya bahwa hal itu adalah suatu kesalahan yang banyak menimpa orang-orang Islam, para penulis, perguruan-perguruan tinggi dan madrasah-madrasah yang mengajarkan ilmu-ilmu syari’at. Karena orang-orang musyrik yang memerangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengakaui (Tauhid Rububiyyah) bahwa Allah-lah Yang Menciptakan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87) سورة الزخرف

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?” (QS. Az-Zukhruf: 87).

Adapun Tauhid Uluhiyyah (pengesaan Allah) yang menjadi dasar keselamatan seorang muslim, tidak saya pelajari, bahkan saya sama sekali tidak punya pengetahuan tentang itu. Kenyataan yang sama, juga di alami oleh madrasah dan perguruan tinggi lain yang mengajarkannya dan tidak dipelajari sama sekali oleh para siswa.

Sementara Allah Azza wa Jalla memerintahkan seluruh rasul untuk mengajak manusia ke tauhid ini (Tauhid Uluhiyyah). Penutup para nabi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mendakwahi kaumnya kepada tauhid uluhiyyah ini, tetapi ternyata mereka menolak, berpaling dan menyombongkan diri, sebagaimana dikisahkan oleh Allah Azza wa Jalla tentang mereka:

{إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ} (35) سورة الصافات

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri” (QS. Ash-Shoffat: 35).

Sikap sombong ini muncul, karena orang-orang musyrik arab itu mengetahui maknanya, bahwa orang yang menyebutkan kalimat ini tidak boleh memohon kepada selain Allah Azza wa Jalla. Sementara itu, ada sebagian orang-orang muslim mengucakan kalimat ini, tetapi mereka justru memohon kepada selain Allah Azza wa Jalla, sehingga karena perbuatan itu mereka telah merusak kalimat tauhid ini.

Adapun Tauhid Shifat (Tauhid Asma’ wa Shifat), madrasah ini sebagaimana madrasah-madrasah lain di negera Islam -dan ini memprihatinkan- telah menta’wilkan (=menafsirkan) ayat-ayat yang berkaitan dengan tauhid shifat.

Saya ingat, bahwa madrasah ini telah menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla:

{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} (5) سورة طـه

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thoha: 5).

Dimana mereka mengartikan kalimat istawa (bersemayam) dengan mengartikan istaula’ (menguasai) dengan berpedoman pada kata-kata seorang penyair

قد استوى بشر على العراق #### من غير سيف ودم مهراق

Sekelompok telah menguasai Iraq

Tanpa pedang dan pertumpahan darah

Ibnu Al-Jauzi berkata:”Pelantun sya’ir ini tidak dikenal (diketahui)”. Ulama lain mengatakan bahwa penyairnya adalah seorang yang beragama Nashrani.

Sementara itu, pengertian kata istawa’ terdapat dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhori ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla:

{… ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء …} (29) سورة البقرة

“Kemudian Ia beristawa’ di langit…”(QS. Al-Baqoroh: 29).4)

Mujahid dan Abu ‘Aliyyah berkata:”Yang dimaksud dengan kata istawa’ adalah di atas dan tinggi”.5)

Jadi, apakah pantas seorang muslim meninggalkan perkataan seorang tabi’in dalam kitab Shahih Bukhori, kemudian mengambil perkataan seorang penyair yang tidak dikenal? Ini adalah ta’wil salah yang mengingkari ketinggian (keagungan) Allah Azza wa Jalla yang bersemayam di atas ‘Arsy dan juga bertentangan dengan aqidah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan imam-imam lainnya.

Imam Abu Hanifah, yang merupakan Imam madzhab yang mereka pelajari berkata:”Barangsiapa yang mengatakan:’Saya tidak tahu apakah Rabb-ku di langit atau di bumi’, maka ia telah kafir. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} (5) سورة طـه

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thoha: 5).

Dan ‘Arsy Allah Azza wa Jalla di atas tujuh lapis langit.6)

<!–[if !supportLists]–> ·Saya berhasil mendapatkan ijazah dan lulus SMA pada tahun 1948 M. Saya juga lulus seleksi untuk dikirim ke perguruan tinggi Al-Azhar, tetapi saya tidak berangkat karena alasan kesehatan. Kemudian saya masuk Madrasah Mu’allimin di Hilb dan bekerja sebagai guru selama kira-kira 29 tahun untuk kemudian meninggalkan profesi itu.

Setelah meninggalkan profesi guru, saya ke Mekkah pada tahun 1399 H, untuk melaksanakan ‘umroh dan berkenalan dengan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz -rahimahullah-. Ketika beliau mengetahui bahwa aqidahku adalah aqidah salaf beliau mengangkatku sebagai mengajar di Masjidil Haram pada waktu hajian. Ketika musim haji selesai, beliau mengirimku ke Yordania untuk tugas dakwah.

Kemudian saya berangkat ke sana dan tinggal di kota Rumtsa, di masjid Jami’ Sholahuddin. Saya ditunjuk menjadi imam, khotib dan guru Al-Qur’an.Terkadang saya mengunjungi sekolah-sekolah persiapan dan mengarahkan mereka untuk berpegang teguh kepada aqidah tauhid, dan merekapun dengan senang hati menerima seruan ini.

<!–[if !supportLists]–> ·<!–[endif]–>Pada bulan Ramadlon tahun 1400 H, saya kembali melaksanakan ‘umroh ke Mekkah, dan tinggal di sana hingga musim haji. Saya berkenalan dengan salah seorang murid Daarul Hadits Al-Khairiyyah di Mekkah. Ia memintaku untuk mengajar di madrasah mereka, karena kebetulan mereka sedang membutuhkan guru-guru, terutama guru dalam bidang study Mustholahul Hadits (Ilmu Hadits). Lalu saya menghubungi kepala sekolahnya dan menyanggupi permintaan saya, lalu meminta agar saya mengambil surat rekomendasi dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz. Lalu beliau menulis surat dan meminta kepada kepala sekolah itu agar mengangkat saya sebagai salah seorang guru di madrasah yang ia pimpin. Maka sayapun mengajar tafsir, tauhid, Al-Qur’anul Kariim dan ilmu-ilmu lain. (Bersambung, insyaAllah).

Catatan Kaki:

1) Ketika Syaikh hafizahullah menulis risalah ini.(Ibnsarijan).

2) Tsanawiyah di Jazirah Arab bukanlah setingkat SMP di negeri kita (Indonesia). Tsanawiyah di negeri ini (Jazirah Arab) adalah setingkat SMA. (IbnSarijan).

3) Di Indonesia DEPAG. (IbnSarijan)

4) Dalam terjemahan Al-Qur’an DEPAG sbb: “…dan Dia berkehendak (menciptakan) langit…” (QS. Al-Baqorah: 29), jelas pengartian yang demikian telah menyalahi pemahaman generasi terbaik ummat ini (baca: Salafus Sholih), (IbnSarijan).

5) Lihat Shahih Bukhori 1/175.

6) Lihat Syarh Aqidah Thohawiyyah, hal: 322.

Sumber: كيف اهتديت إلى التوحيد

 http://www.darussalaf.or.id/

Nash Al-Quran & Assunnah Ahlussunnah Waljamaah (Salaf)

Wednesday, January 28th, 2009

.

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Upaya penyaringan terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Aqidah, Ahkam (hukum) maupun Akhlaq, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah diturunkan kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan diajarkan pada Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya hingga hari kiamat.

Manhaj Salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman Salafush Shalih.

Kewajiban mengikuti jalan mereka dalam firman Allah:

 

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah : 100)

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam orang yang menyelisihi dengan firman-Nya :

 

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu`min, maka Kami biarkan ia larut terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.”.(QS. An-Nisa  :115)

 

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda :

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا : كَتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat sesudahnya (yaitu) Kitabullah dan Sunnahku dan keduanya tidak akan bercerai sampai keduanya menemuiku di telaga”. (Shohih Jami’ Ash-Shoghir  karya Al-Albany)